Buku Untuk Rahma

oleh -69 views

CERITA ini dimulai dari jarum jam di pergelangan tangan kiri Rahma yang terus bergerak. Jarum jam yang kulihat seolah berpacu dengan laju kendaraan yang sedang dikendarainya itu terus melaju membelah keramaian jalan Kota Pekanbaru.

Mataku kembali tertuju pada Rahma yang masih terus melaju dengan kendaraan roda duanya, mulai melambat, lalu berhenti ketika telah berada di depan kantor WWF Indonesia, Kantor Pekanbaru, Provinsi Riau.

www.domainesia.com

Dari jarum jam di pergelangan tangan kirinya, kucoba menerka sudut pandangnya. Rahma yang kutuliskan namanya dalam kisah ini hanyalah salah satu dari sekian nama orang yang tidak ingin kusebutkan namanya di lembar catatanku ini.

***

JARUM jam di tangan Rahma sudah menunjukan pukul  09.00 WIB, ketika satu persatu peserta pelatihan yang terdiri dari perwakilan semua tim yang ada di bawah naungan WWF Indonesia Program Sumatera itu mulai menaiki bus yang sudah terparkir di pinggir jalan depan kantor WWF Indonesia kantor Pekanbaru.

Dari Rahma aku tahu, jika WWF Indonesia merupakan salah satu organisasi konservasi independen terbesar di Indonesia yang telah memulai kegiatannya sejak 1962 lalu.  Menurut Rahma yang saat itu duduk persis di sebelahku, pada1998 yang lalu, WWF Indonesia resmi  menjadi lembaga nasional berbadan hukum yayasan. Saat ini, WWF Indonesia bekerja di 28 kantor wilayah di 17 provinsi di Indonesia, menjalin kerjasama dan bermitra dengan masyarakat, LSM, media, dunia usaha, universitas, serta pemerintah, baik di daerah maupun di pusat.

Dengan didukung oleh lebih dari 500 personil, sejak tahun 2006, WWF Indonesia mendapatkan dukungan lebih dari 64.000 suporter yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara.

Tepat pukul 09.30 WIB, bus pariwisata dan mobil Kijang Innova yang membawa Rahma dan peserta pelatihan lainnya, meninggalkan Komplek Pemda Arengka. Bersamaan dengan jarum jam di tangan kiri Rahma, pelan tapi pasti bus dan mobil Kijang Innova yang membawa Rahma dan teman-temannya itu mulai melaju di antara jalan lintas Pekanbaru-Bangkinang, meninggalkan Pekanbaru.

Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 3,5 jam atau sekitar 100 km dari Pekanbaru, sambil kembali melihat jarum jam di tangan kiri Rahma yang kulihat sudah menunjukan pukul 12.05 WIB, bus  dan mobil Kijang Innova warna putih yang ditumpangi Rahma dan teman-temannya itu berbelok keluar dari jalan lintas Bangkinang-Payakumbuh.

Rahma dan para peserta lainnya  kemudian turun dari bus yang baru saja berhenti di areal parkir Dekotoz Villa yang terletak di daerah Binamang, XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar tersebut.

***

SAMBIL membawa sepiring nasi beserta lauk-pauknya, kudatangi Rahma yang sedang menikmati makan siang di pinggir kolam renang. Aku duduk disebelahnya. Kulihat, dia baru saja selesai makan siang. Saat itu dia sedang ngobrol dengan salah seorang karyawan Dekotoz Villa yang sedang duduk di sebelahnya.

Menurut Amin, salah seorang karyawan Dekotoz Villa yang mengaku sudah bekerja selama 1 tahun ditempat ini, danau yang ditunjuk oleh Rahma itu bernama Danau Rusa. Danau Rusa sendiri adalah danau buatan yang menurut sejarah, dulunya adalah 9 desa yang sengaja di tenggelamkan untuk membuat Waduk Koto Panjang ini. Waduk Koto Panjang sendiri sampai saat ini masih dipergunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk mengaliri daya listrik untuk Riau yang terkoneksi ke jaringan listrik di Sumatra.

Selesai makan siang, aku kembali ke pinggir kolam renang di mana Rahma dan Amin tadi berada. Sambil membakar sebatang rokok, aku kembali mendengarkan percakapan antara Rahma dan Amin. Menurut Amin, selain dijadikan sumber PLTA, Waduk Koto Panjang juga menjadi sumber pendapatan warga tempatan. Salah satunya dipergunakan untuk usaha keramba ikan air tawar.

Kulirik jarum jam ditangan kiri Rahma yang sudah menunjukan pukul 13.00 WIB. Sesuai jadwal, dia dan peserta pelatihan yang berjumlah 30 orang itu harus segera mengambil peralatannya, seperti laptop, buku tulis, dan lain sebagainya.

***

“TUJUAN diadakan pelatihan menulis ini adalah untuk menggali dan mengembangkan potensi dari teman-teman semua, yang selama ini lebih banyak fokus di lapangan. Aku tahu, sebenarnya banyak sekali di antara teman-teman memiliki pengalaman yang begitu menarik untuk diceritakan. Dan seperti yang aku tahu, selama ini teman-teman selalu kebingungan setiap kali pulang dari lapangan, sebenarnya data-data yang telah didapatkan di lapangan itu untuk apa? Dan bagaimana caranya menuangkan apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan ketika di lapangan itu menjadi sebuah tulisan yang menarik untuk dibaca? Diharapkan,  setelah kita melakukan pelatihan menulis ini, teman-teman semua lebih termotivasi lagi untuk menuangkan apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan ketika di lapangan ke dalam satu bentuk tulisan,” kata Staf komunikasi WWF Indonesia Program Sumatera Tengah, Syamsidar, ketika memberikan kata sambutan pada acara pembukaan pelatihan itu.

Aku duduk di sebelah Rahma, yang kulihat sengaja memilih tempat duduk di meja tengah ruang pertemuan aula Dekotoz Villa itu. Katanya, agar bisa lebih menyimak dan menyerap setiap kata demi kata yang akan diucapkan oleh pematerinya nanti. Ternyata sosok pria berbadan tegap mengenakan topi yang tadi kulihat ikut memasuki aula Dekotoz Villa itu adalah orang yang akan mengisi materi pada pelatihan menulis saat itu.

Namanya Hary B Kori’un. Dia adalah Editor In Chief (Pemimpin Redaksi) www.riaupos.co dan Majalah SWARNADWIPA yang sengaja didatangkan ke tempat ini untuk membagikan ilmu dan pengalamannya selama bergelut di dunia jurnalistik.

“Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis. Antara lain, yang perlu dilakukan oleh seorang penulis adalah menaati aturan ejaan yang berlaku, yakni Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Sekarang namanya Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).  Dalam jurnlistik, kalimat aktif harus diutamakan yang ditandai dengan penggunaan prefiks ‘me-‘ dan ‘ber-‘, kecuali pada judul berita,” kata lelaki yang biasa dipanggil HBK  itu setelah memperkenalkan dirinya serta  meminta para peserta pelatihan juga memperkenalkan dirinya masing-masing.

 Selanjutnya dia menjelaskan bahwa bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikatif. Artinya,  bahasa jurnalistik harus dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca. “Dan informasi yang diberikan itu haruslah teliti, ringkas, jelas, mudah dimengerti, dan menarik,” katanya lagi, sambil kembali memberikan contoh-contoh kalimat yang biasa dipakai di dalam dunia jurnalistik.

Dia juga menjabarkan bahwa tulisan feature yang baik itu haruslah memiliki lead yang memikat, tubuh tulisan yang tak bertele-tele, serta memiliki penutup yang menarik. “Yang harus dipahami, menulis itu bisa dipelajari dengan tekun dan terus-menerus. Saya yakin, setelah keluar dari pelatihan ini, Anda tak akan langsung bisa menulis dengan baik. Anda harus terus berlatih,” ujarnya lagi.

***

SETELAH tiga hari berkumpul, bermain sambil menimba ilmu bersama, tibalah waktunya bagi para peserta pelatihan ini untuk segera kembali kerumah dan keluarganya masing-masing dimana mereka sebelumnya berada.

Mungkin, sebelum diadakan pelatihan ini, banyak peserta yang hanya tau nama, tanpa kenal wajah, begitupun sebaliknya, ada juga yang hanya tau wajah tapi tidak kenal nama. Maka kebersamaan selama tiga hari itu rasanya cukuplah  untuk mengikat dan mempererat tali persahabatan diantara mereka.

Kututup buku catatanku. Rahma mengambil buku novel pemberian Hary B Kori’un dari dalam tas di sebelah tempat duduknya. Sambil membuka lembaran pertama, kulihat dia mulai membaca.

Hary B Kori’un adalah alumni Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas (Unand) Padang, yang juga seorang penulis novel dan cerita pendek. Cerpen-cerpennya dimuat di beberapa media seperti Sinar Pagi, Mutiara, Singgalang, Haluan, Sriwijaya Post, Riau Pos, Pekanbaru Pos, Riau Mandiri, Suara Riau dan beberapa media lainnya.

Di antara gemuruh air hujan yang tadi sempat mereda ketika para peserta pelatihan satu persatu menaiki mobil bus yang akan kembali membawa mereka ke Kota Pekanbaru, di antara jalan berliku di lintas Payakumbuh-Bangkinang, perlahan kucoba rebahkan punggungku di bangku kursi sebelah Rahma yang kulihat mulai asyik membaca novel di sampingku.

Di antara derasnya air hujan yang mengguyur sepanjang jalan lintas Payakumbuh – Bangkinang, aku sadar, bahwa apa yang dilakukan oleh Rahma dan teman-temannya itu adalah sebagai salah satu upaya untuk mencegah negara ini dari bencana alam yang seringkali di sebabkan oleh kelalaian umat manusia.

Rahma dan teman-temannya itu, hidup dan tinggal di negara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara daratan Benua Asia dan Australia. Sebuah negara yang menjalankan pemerintahan republik presidensial multipartai yang demokratis dengan populasi hampir 270.054.853 juta jiwa pada tahun 2018.  

Dan ini bukanlah catatan terakhirku tentang mereka. Di antara suara alunan musik yang mengalun pelan di dalam bus yang membawa Rahma dan teman-temannya, sebelum memejamkan kedua mataku, sekali lagi aku percaya, jika semua pihak dapat menjalankan perannya dengan baik, maka harapan untuk dapat menjaga kelestarian satwa dan keseimbangan ekosistem dapat terwujud.

Dan ke depan, seperti pesan sengaja dituliskan oleh Hary B Kori’un di lembar pertama buku novel yang diberikan kepada para peserta pelatihan kemarin, aku, Rahma dan mereka-mereka yang ada di dalam kisah yang kuceritakan ini akan terus menyuarakan  dalam bentuk yang lainnya, agar kelestarian satwa dan keseimbangan ekosistem dapat terwujud.

Aku selalu ingat pesan yang dikatakan  Hary B Kori’un, intrukstur yang sengaja didatangkan untuk mendampingi kami dalam belajar menulis.  “Menulislah jika tak ingin dilupakan…” katanya. Jadi, intinya, menulis adalah sebuah proses agar kita tetap “ada” dan tak dilupakan oleh siapapun. Kita boleh mati, tetapi tulisan itu akan hidup selamanya, dari generasi ke generasi.

Warkasa 1919
Latest posts by Warkasa 1919 (see all)

Tentang Penulis: Warkasa 1919

Gambar Gravatar
Ruang Berbagi & Informasi