Di Belakang Wanita Hebat Terdapat Doa Seorang Ibu

oleh -103 views
Di Belakang Wanita Hebat Terdapat Doa Seorang Ibu

Wanita Hebat

Selama tiga  hari  dua malam aku berada di Kota Tasikmalaya, banyak pelajaran yang aku dapatkan selama berada di sana.

Aku bersama tiga sahabat yang sama-sama menjadi Kepala Sekolah di SD yang berbeda, tapi masih di lingkungan yang sama yaitu sama-sama di  Kecamatan Kesambi.

www.domainesia.com

Walau saat ini usia mereka tak lagi muda, tapi aku bisa merasakan semangat mereka bertiga yang dimasa mudanya adalah kembang desa. hehehe.

Aku bersama tiga sahabat yang sama-sama menjadi Kepala Sekolah di SD yang berbeda, tapi masih di lingkungan yang sama yaitu di  Kecamatan Kesambi. Mereka kembang desa pada jamannya hehehe.

Selain bersilaturahmi, salah satu tujuan kami datang ke kota ini adalah melakukan survey  ke tempat wisata yang ada di sana untuk kegiatan sekolah, menggali apa saja yang ada di Kota Tasikmalaya, selain  menulis tentang wisata dan kuliner yang ada di Kota Tasikmalaya, aku terlebih dahulu akan bercerita tentang sisi lain pertemuanku dengan  dua sosok ibu yang aku temui.

Dua sosok ibu yang hampir sama,  baik sikap maupun tutur katanya, sosok dua  ibu itu berusia 82 dan 74 tahun. Keduanya mengingatkanku pada sosok nenek yang penuh perhatian. Melihat mereka, ada perasaan sedih karena aku teringat  nenek yang telah tiada.

Sangatlah bersyukur Bu Lili dan Bu Eva sahabat  sesama Kepala Sekolah yang hebat, masih memiliki sosok ibu yang selalu mendoakannya.

Di rumah Bu Lili, aku dapat merasakan kembali  acar  ikan  mas buatan emak (panggilan Bu Lili pada ibunya), rasanya sangat enak dan sama dengan yang biasa dimasak almarhumah nenek. Jujur saja sudah lama aku ingin merasakan masakan itu yang olahannya sama dengan yang nenek buat dan aku merasakannya ketika berada di rumah Bu Lili.

Emak menemani kami makan, dan merasa senang ketika aku menghabiskan satu ekor ikan mas.

Kata bijak wanita hebat

Emak berusia 82 tahun,  biasa menjadi imam sholat untuk anak-anaknya yang perempuan, setiap selesai sholat, lantunan doa selalu menghiasi bibirnya.  Satu persatu yang salam padanya selalu didoakan termasuk aku.

Kasih seorang ibu dapat  aku  rasakan pada sosok emak.

Aku teringat sosok  nenek  ketika tangan keriput emak mengusap-usap punggung Bu Lili, meski Bu Lili berusia setengah abad lebih, di mata seorang emak Bu Lili tetaplah seorang anak. Dulu tangan keriput nenek selalu mengusap punggung dan kepalaku sambil bersholawat, ah aku teringat kembali sosok nenek yang biasa aku panggil emak.

Aku teringat sosok  nenek  ketika tangan keriput emak mengusap-usap punggung Bu Lili, meski Bu Lili berusia setengah abad lebih, di mata seorang emak Bu Lili tetaplah seorang anak. Dulu tangan keriput nenek selalu mengusap punggung dan kepalaku sambil bersholawat, ah aku teringat kembali sosok nenek yang biasa aku panggil emak.

Pagi itu Bu Eva ikut bergabung bersama kami, untuk survey ke satu lokasi wisata, setelah seharian berada di tempat wisata dan Ke toko bordir yang berada di Tasikmalaya, kami pulang menjelang sore hari dan mampir ke rumah Bu Eva.

Aku melihat sosok ibu yang bersahaja, menyambut kedatangan kami. Emih, biasa Bu Eva memanggil beliau, meski berusia 74 tahun, wajah emih bersih dan masih terlihat cantik, melihat emih aku teringat wajah amih (nenek dari pihak mama), sama seperti emih wajah amih masih terlihat cantik di usia senjanya.

Emih menyiapkan makan sore untuk kami, makanan khas suku Sunda seperti pepes ikan, ayam kampung  goreng, tahu, tempe, lalapan dan sambal terasi. Emih tersenyum melihat kami makan dengan lahap. Aku suka makanan dengan lauk seperti itu.

Emih dan Emak sangat senang bisa menjamu kami. Mereka menempatkan diri sebagai orang tua sendiri bagi kami

Emih terlihat senang melihat kedatangan kami, beliau banyak bercerita tentang pengalaman operasi lutut dan memperlihatkan hasil jahitan di lututnya.

Daya ingat emih dan emak masih kuat, ketika mereka bercerita sangat runtut. Mereka sama-sama senang bila ada yang berkunjung, mungkin karena anak-anak mereka setelah dewasa  banyak yang merantau.

Aku melihat kebiasaan Bu Eva dan Bu Lili sama yaitu rutin sholat tahajud begitupun Bu Tuti wanita kuat sang driver kami.

Rumah Fiksi 1919

Tentang Penulis: Rumah Fiksi 1919

Gambar Gravatar
Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena akan membuatku binasa secara perlahan