Di sebuah pagi yang belum sepenuhnya terjaga, Jakarta berdenyut dengan ritme yang nyaris tak pernah berhenti. Klakson, langkah kaki, dan notifikasi dari ponsel menjadi musik latar kehidupan modern. Di antara ribuan manusia yang bergerak cepat, ada seorang perempuan bernama Aluna—wanita karier, cerdas, mandiri, dan tampak tak tersentuh oleh kelelahan, meski sesungguhnya ia menyimpannya rapat-rapat di balik senyum profesionalnya.
Aluna bekerja sebagai konsultan lingkungan di sebuah perusahaan multinasional. Ironis, pikirnya kadang, karena sebagian kliennya justru adalah perusahaan yang berkontribusi terhadap kerusakan alam. Namun, ia percaya, perubahan tidak selalu datang dari luar—kadang justru harus dimulai dari dalam sistem itu sendiri.
Hari itu adalah Hari Bumi, 22 April. Banyak orang merayakannya dengan unggahan media sosial, seminar daring, atau sekadar mengganti foto profil dengan nuansa hijau. Tapi bagi Aluna, Hari Bumi selalu terasa lebih dalam—seperti panggilan yang tak pernah benar-benar bisa ia abaikan.
Panggilan itu membawa pikirannya kembali ke masa kecil di sebuah desa kecil di Sumatra, dekat hutan yang lebat dan sungai yang jernih. Di sana, ia belajar untuk pertama kalinya bahwa tanah bukan sekadar tempat berpijak, melainkan ibu yang memberi kehidupan—Ibu Pertiwi.
“Aluna, kamu harus ikut ke proyek ini.”
Suara Damar, rekan sekaligus atasannya, membuyarkan lamunannya.
“Proyek apa?” tanya Aluna, sambil tetap menatap layar laptopnya.
“Perluasan perkebunan. Di Riau. Dekat kawasan hutan lindung.”
Aluna terdiam. Riau. Kata itu seperti pintu yang membuka kembali ingatan yang lama ia simpan. Hutan, kabut pagi, suara burung, dan… seseorang.
“Kenapa aku?” tanyanya pelan.
“Karena kamu yang paling paham soal dampak lingkungannya. Dan… mungkin kamu bisa bantu cari solusi yang lebih berkelanjutan.”
Aluna menatap Damar. Ada sesuatu dalam nada suaranya—seperti harapan, tapi juga tekanan.
“Baik,” jawabnya akhirnya.
Perjalanan ke Riau terasa seperti perjalanan pulang yang tak pernah ia rencanakan. Pesawat mendarat, dan udara yang lembap langsung menyambutnya—berbeda dari dinginnya ruangan kantor ber-AC.
Di perjalanan menuju lokasi proyek, Aluna melihat hamparan kelapa sawit yang luas, menggantikan sebagian besar hutan yang dulu ia kenal. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.
“Ibu Pertiwi, apa kabarmu sekarang?” gumamnya dalam hati.
Sesampainya di lokasi, ia disambut oleh tim lokal. Namun, ada satu wajah yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
“Aluna?”
Suara itu… masih sama.
Ia menoleh. Dan di sana berdiri Arga—cinta pertamanya, yang dulu ia tinggalkan demi mengejar mimpi di kota besar.
“Arga…” suaranya hampir tak terdengar.
Mereka saling menatap, seolah waktu berhenti sejenak.
Arga kini bekerja sebagai aktivis lingkungan. Ia memimpin komunitas lokal yang berusaha menjaga sisa hutan dari ekspansi industri.
“Kamu berubah,” kata Aluna suatu sore, saat mereka berjalan di tepi hutan.
“Kamu juga,” jawab Arga. “Tapi matamu masih sama. Masih menyimpan banyak tanya.”
Aluna tersenyum tipis. “Dan kamu masih suka bicara seperti pujangga.”
Mereka tertawa. Namun di balik tawa itu, ada sesuatu yang belum selesai.
“Kenapa kamu kembali?” tanya Arga tiba-tiba.
“Pekerjaan,” jawab Aluna singkat.
“Dan hatimu?”
Aluna terdiam.
Hari-hari berikutnya diisi dengan diskusi, survei lapangan, dan perdebatan yang tak jarang memanas. Aluna berada di tengah—antara kepentingan perusahaan dan suara alam yang diwakili oleh Arga.
“Kalau hutan ini hilang, bukan cuma pohon yang mati,” kata Arga suatu malam. “Tapi juga kehidupan, budaya, dan… masa depan.”
“Aku tahu,” jawab Aluna. “Tapi kita juga harus realistis. Ada ekonomi, ada pekerjaan…”
“Dan ada batas,” potong Arga. “Ibu Pertiwi bukan sumber daya tak terbatas.”
Kata-kata itu menusuk.
Malam itu, Aluna tak bisa tidur. Ia keluar dari penginapan dan berjalan ke arah hutan. Langit dipenuhi bintang—sesuatu yang jarang ia lihat di Jakarta.
Ia duduk di tanah, menyentuhnya dengan tangan.
“Maafkan aku,” bisiknya. “Kalau selama ini aku lebih banyak mengambil daripada memberi.”
Angin berhembus pelan, seolah menjawab.
Keesokan harinya, Aluna membuat keputusan yang mengejutkan banyak pihak.
Ia mengusulkan revisi besar pada proyek tersebut—mengurangi area ekspansi, melindungi zona hutan kritis, dan melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan.
“Ini tidak menguntungkan secara maksimal,” kata salah satu eksekutif.
“Tapi ini berkelanjutan,” jawab Aluna tegas. “Dan dalam jangka panjang, itu lebih bernilai.”
Damar menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.
“Kadang kita butuh orang seperti kamu untuk mengingatkan arah,” katanya.
Di tengah semua itu, hubungan Aluna dan Arga kembali tumbuh—perlahan, tapi pasti.
Mereka berbagi cerita, tawa, dan juga luka lama.
“Aku dulu marah,” kata Arga suatu malam. “Karena kamu pergi tanpa benar-benar menjelaskan.”
“Aku takut,” jawab Aluna jujur. “Takut kalau aku tetap di sini, aku akan kehilangan kesempatan. Tapi ternyata… aku juga kehilangan sesuatu yang lain.”
Arga menatapnya. “Kita semua membuat pilihan. Yang penting, apakah kita berani menghadapi konsekuensinya.”
Aluna mengangguk.
“Dan sekarang?” tanya Arga.
“Sekarang aku ingin memilih dengan lebih sadar. Tidak hanya untuk diriku, tapi juga untuk… kita. Dan untuk Ibu Pertiwi.”
Arga tersenyum. “Kedengarannya seperti janji.”
“Mungkin memang itu,” jawab Aluna.
Hari Bumi tahun itu terasa berbeda bagi Aluna.
Bukan karena seminar atau kampanye, tapi karena ia akhirnya memahami bahwa mencintai bumi tidak bisa setengah-setengah. Seperti cinta pada manusia—ia butuh komitmen, keberanian, dan pengorbanan.
Ia berdiri di tengah hutan, bersama Arga dan masyarakat lokal, menanam bibit pohon.
“Tahukah kamu,” kata Arga, “dalam setiap pohon yang kita tanam, ada harapan yang kita titipkan.”
“Dan dalam setiap keputusan yang kita ambil,” tambah Aluna, “ada masa depan yang kita bentuk.”
Mereka saling menatap.
Di antara tanah, akar, dan langit, cinta itu tumbuh—bukan hanya antara dua manusia, tapi juga antara manusia dan alam.
Bagi perempuan seperti Aluna—wanita karier, terpelajar, dan penuh ambisi—dunia sering kali menuntut pilihan yang sulit. Antara karier dan nurani, antara cinta dan logika, antara diri sendiri dan dunia yang lebih luas.
Namun Hari Bumi mengajarkan sesuatu yang sederhana, tapi mendalam: bahwa kita tidak pernah benar-benar terpisah dari bumi. Kita adalah bagian dari Ibu Pertiwi—dan apa yang kita lakukan padanya, pada akhirnya akan kembali pada kita.
Aluna kini tahu, bahwa kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tapi juga tentang jejak yang kita tinggalkan.
Dan cinta… bukan hanya tentang memiliki, tapi juga tentang merawat—seperti kita merawat bumi ini.
Di suatu senja, saat matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan, Aluna bersandar di bahu Arga.
“Kalau suatu hari aku harus kembali ke Jakarta?” tanyanya.
Arga tersenyum. “Selama kamu tidak melupakan siapa kamu, dan dari mana kamu berasal… kamu tidak pernah benar-benar pergi.”
Aluna menatap langit yang berwarna jingga.
“Ibu Pertiwi,” bisiknya dalam hati, “aku pulang—bukan hanya ke tempat, tapi ke makna.”
Dan di sana, di antara hutan yang masih berjuang untuk tetap hidup, sebuah cerita baru dimulai—tentang cinta, tentang keberanian, dan tentang harapan yang tak pernah benar-benar hilang.
- Ibu Pertiwi Menyimpan Rahasia Cinta - 22 April 2026
- Rahasia Al-Fatihah Ayat 1-7 - 10 April 2026
- Diwa, Wanita dari Masa Depan - 23 September 2025





