Lelaki Dari Masa Lalu

oleh -91 views
Lelaki Dari Masa Lalu
Lelaki Dari Masa Lalu

“21 tahun bukanlah waktu yang sebentar, tapi kamu masih ingat dengan semua cerita itu.”

“Iya, aku ingat semuanya. Aku ingat saat pertama kali bertemu denganmu di ujung jalan itu. Saat itu, di ujung jalan itu, aku menarik tanganmu. Aku membantumu lari dari kejaran aparat yang tengah mengejarmu,” kataku sambil menatap lelaki bermata teduh di depanku. Penampilannya jauh berbeda dari yang kukenal pada 21 tahun yang lalu.

www.domainesia.com

“Hmm, kamu masih cantik.”

“Tidak persis seperti dulu,” kataku berusaha tenang sambil kembali menyeruput kopi yang sejurus terlupakan.

“Namun, aku masih tetap menyukaimu sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah sedikit pun dari rasa itu, walau sejak itu kita tidak pernah lagi bertemu.”

“Aku tidak seperti yang engkau kenal dulu,”

“Iya, aku tahu itu. Dulu kamu adalah cewek tomboy yang kukenal selalu memakai celana jeans belel dengan kaos t-shirt serta kamera yang tidak lepas dari tanganmu. Sekarang, … Kamu baru pulang dari pengajian, ya?”

“Aku bukan lagi cewek tomboy berusia 27 tahun yang dulu sering jengkel pada anak ABG berusia 19 tahun yang kerap membuatku kesal. “

“Kenapa?”

“Karena engkau tidak pernah mau menganggap aku sebagai kakakmu.”

“Hmm. Sampai sekarang kamu masih kesal?”

“Masih. Sampai sekarang aku masih ingat dengan jelas saat aku pertama kali menamparmu dulu!”

“Ups. Kamu masih ingat dengan semua itu?”

“Iya. Sampai sekarang.”

“Semuanya? Seperti aku yang tetap ingat dengan semua kenangan di tempat ini bersamamu?”

“Iya. Saat itu di bawah rintik hujan kita berteduh di pinggir jalan. Dan, malam itu, di depan toko itu engkau menciumku.”

“Dan, kamu menamparku.”

“Iya. Aku menampar adik yang nakal, yang tidak pernah mau mendengar omonganku, dan selalu membuatku jengkel, karena terus mencuri kesempatan untuk bisa menciumku.”

“Kamu marah?”

“Mana ada perempuan yang tidak marah dicium paksa seperti itu?”

“Lalu, mengapa saat itu kamu selalu mengajakku ikut menemanimu?”

“Aku tidak tahu. Entah mengapa, saat itu aku menyayangimu. Namun, itu sebatas rasa sayang seperti kakak menyayangi adik laki-lakinya. Mungkin karena aku anak tunggal dan saat itu aku begitu ingin memiliki adik laki-laki sepertimu.”

“Aku juga menyayangimu, bahkan sampai saat ini, rasa itu tidak berubah sedikit pun.”

“Aku tidak lagi seperti yang engkau kenal dulu. Aku sudah memiliki dua orang anak sekarang. Yang sulung sudah kuliah masuk semester satu, sementara yang bungsu sudah masuk SLTP dua tahun yang lalu.”

“Setelah sekian tahun berlalu, mengapa akhirnya kamu bersedia bertemu denganku? Dan, mengapa harus di tempat ini?”

“Jujur saja, aku ingin tahu kabarmu. Adik nakal yang dulu sering membuatku jengkel. Adik nakal yang bahkan sampai membuat aku memutuskan pacarku hanya karena dia meminta aku memilih untuk meninggalkan dia atau meninggalkan laki-laki itu.”

“Dan, kamu memilih tetap bersamaku. Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Saat itu aku berpikir, kalau aku lebih baik kehilangan pacarku daripada harus kehilanganmu.”

“Kenapa?”

“Jangan tanya, kenapa. Sebab, sampai sekarang pun aku masih belum bisa menjawab itu. Sama seperti saat ini dimana aku, akhirnya, memutuskan untuk menemuimu di tempat ini.”

“Mengapa kamu memutuskan untuk mengajakku bertemu di tempat ini?”

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu, di sini …  kita pertama kali bertemu dulu.”

“Kamu masih marah, karena aku tidak pernah memberi kabar setelah kerusuhan waktu itu?”

“Iya. Aku benci pada orang yang sudah membuatku menangis waktu itu. Aku begitu marah pada orang yang pergi menghilang begitu saja tanpa pernah memberi kabar apa pun. Waktu itu, aku hampir gila. Aku terus mencari dan mencari. Namun, kamu raib. Hilang seperti ditelan hantu. Sekian tahun lamanya aku menunggu kabar tentangmu hingga akhirnya aku memutuskan menikah dengan mantan pacarku yang kuputuskan dulu demi adik nakal yang tidak pernah tahu bagaimana perasaanku kepadanya. Dan, setelah sekian lama menghilang, tiba-tiba saja, entah dari mana dia bisa mendapatkan nomor handphone-ku, lalu bilang ingin bertemu denganku.”

“Kamu cantik. Dari dulu kamu selalu cantik di mataku. Bahkan, sampai sekarang pun kamu tetap cantik.”

“Pun setelah aku pernah menikah dan sekarang sudah memiliki dua orang anak?”

“Iya. Hmm. Pernah?”

“Iya. Lelaki yang dulu pernah berantem denganmu itu telah menikahiku beberapa tahun setelah engkau pergi menghilang begitu saja.”

“Terus?”

“Lima tahun setelah tiada kabar darimu, lelaki itu datang melamarku.”

“Terus?”

“Aku dan dia akhirnya menikah, karena orangtuaku tidak tahan lama-lama mendengar anaknya sering disebut perawan tua. Mereka mendesak aku agar mau menerima lamaran pria yang telah memberiku dua orang anak itu.”

“Terus?”

“Lima tahun yang lalu pula, sebelum engkau menghubungiku, dia adalah salah satu korban dari penumpang yang tewas pada kecelakaan pesawat yang menimpa maskapai AirAsia di perairan Laut Jawa.”

“Aku turut berduka cita.”

“Apakah engkau masih tetap menganggapku seperti dulu setelah tahu, bahwa aku bukan lagi gadis tomboy yang engkau kenal dulu?”

“Sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Kamu tetap cantik di mataku, bahkan sampai sekarang pun begitu. Dan juga, sampai sekarang tidak ada seorang pun yang bisa merubah keputusanku dari dulu. Aku tetap tidak ingin menjadi adikmu.”

“Kenapa?”

“Karena, … aku ingin menjadi suamimu.”

“Pun setelah tahu, bahwa aku sudah memiliki dua orang anak dari lelaki itu?”

“Iya, tidak sedikit pun yang berkurang dari rasa sayangku padamu. Persis sama seperti dulu. Lagi pula, sama seperti dirimu, waktu juga telah mengubahku. Sekarang aku juga bukan adik yang nakal seperti yang pernah kamu kenal dulu.”

“Hmm …”

“Akan tetapi, aku masih punya pertanyaan untukmu.”

“Apa itu?”

“Mengapa kamu memaksa untuk bertemu denganku di tempat ini?”

“Iya, aku ingin di sini. Di awal pertemuanku denganmu lagi setelah sekian lamanya, aku mau kita bertemu di tempat di mana dahulu aku pertama kali mengenalmu.”

“Ya. Di sini, di tempat ini kita  pertama kali bertemu. Di sini pula aku mengenalmu. Namun, setelah itu aku pergi meninggalkanmu.”

“Maksudnya?”

Warkasa 1919
Latest posts by Warkasa 1919 (see all)

Tentang Penulis: Warkasa 1919

Ruang Berbagi & Informasi

3 thoughts on “Lelaki Dari Masa Lalu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.