Kesendirian, Hujan, dan Desember dalam Puisi

oleh -278 views
Kesendirian, Hujan, dan Desember dalam Puisi
Kesendirian, Hujan, dan Desember dalam Puisi

Desember tiba dengan hembusan angin sejuk yang membelai pipi. Bulan terakhir dalam tahun ini sering kali diiringi oleh hujan yang turun dengan lembut. Di tengah suasana yang sepi, kesendirian pun menjadi teman setia. Dalam puisi ini, mari kita merenungkan tentang kesendirian, hujan, dan Desember.

Kesendirian yang Menguatkan

Kesendirian seringkali dianggap sebagai suatu hal yang negatif, tetapi sebenarnya, kesendirian juga bisa menjadi waktu yang berharga untuk merenung dan mengenal diri sendiri. Di tengah hujan yang turun, saat itulah kita bisa merenungkan kehidupan kita yang penuh dengan hiruk pikuk aktivitas sehari-hari. Dalam kesendirian, kita bisa menemukan kedamaian batin dan menguatkan diri untuk menghadapi tantangan yang akan datang.

www.domainesia.com

Hujan sebagai Penyembuh Luka

Hujan memiliki kekuatan penyembuhan yang luar biasa. Tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit bisa membersihkan hati yang sedang terluka. Dalam hujan, kita bisa melepaskan beban-beban yang selama ini kita pikul. Setiap tetesan hujan yang jatuh seperti suara pelan yang menghibur dan mengusap luka-luka yang ada di dalam hati kita. Biarkan hujan menyembuhkan luka-luka dan memulihkan semangat kita.

Desember yang Membawa Harapan

Desember adalah bulan yang penuh dengan harapan. Di penghujung tahun, kita bisa merenungkan semua pencapaian dan kegagalan yang telah kita alami selama setahun. Meskipun hujan turun dan kesendirian melingkupi, tetapi Desember juga membawa harapan baru. Kita bisa membuat resolusi-resolusi baru untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri di tahun yang akan datang. Desember adalah waktu untuk berdamai dengan diri sendiri dan memandang masa depan dengan penuh semangat.

Puisi tentang Kesendirian, Hujan, dan Desember

Di bawah ini, saya hadirkan sebuah puisi yang menggambarkan perasaan kesendirian, hujan, dan Desember yang bisa kita rasakan:

Desember dan Hujan

Desember datang dengan hujan yang lembut

Kesendirian hadir dalam setiap tetes air yang jatuh

Di dalam hati yang sepi, aku merenung

Tentang hidup yang terus berputar

Tetesan hujan mengusap luka di dalam hati

Menyembuhkan perih yang terpendam

Di dalam hujan, aku menemukan ketenangan

Dan kekuatan untuk bangkit kembali

Desember membawa harapan yang baru

Resolusi-resolusi untuk masa depan

Kesendirian bukanlah hal yang menakutkan

Tetapi waktu untuk mengenal diri sendiri

Hujan dan Kita

Hujan itu air, sayang, bersyukur engkau tidak kehujanan, aku tau engkau takut sendirian ditengah hujan besar.

Jangan pernah menangis dan menyesal karena suatu pilihan, engkau tidak sendirian, percayalah.

Berdoalah sayang, agar hujan segera berhenti dan membuatmu tenang kembali.

Aku tau engkau tidak suka ketika hujan turun ke bumi, engkau lebih menyukai mentari yang menghangatkan bumi.

Sayang, cobalah engkau keluar, lihatlah keadaan di sekelilingmu, lihatlah tanaman yang semakin subur, hewan-hewan yang bersuka cita menyambut datangnya hujan, lihatlah kebahagiaan mereka semua agar engkau juga mampu merasakan segarnya udara yang masuk ke dalam tubuhmu setelah hujan reda.

Jangan pernah membenci sesuatu yang mungkin engkau sendiri tidak mengetahuinya, yakin dan percayalah, bahwa tidaklah mungkin Dia menciptakan sesuatu itu dengan sia-sia. Pasti ada manfaatnya, tidak untukmu bisa jadi bermanfaat bagi yang lainnya.

Hanya satu pesanku kepadamu, bersyukurlah. Bersyukurlah atas segala Rahmat dan karunia-Nya yang telah Dia berikan kepadamu. Jangan pernah mengeluh kepada siapapun karena tidak semua orang akan bersimpati dengan semua keluhanmu.

Biarkan orang lain melihatmu tertawa, sembunyikan air mata dan kesedihanmu, cukup aku dan Dia yang melihat kesedihanmu.

Apakah engkau merasa sendirian saat ini? Engkau tidak sendirian sayang, karena sesungguhnya aku dan Dia selalu bersamamu, baik di pagi dan petangmu aku dan  Dia selalu ada untukmu.

Aku tau, engkau sering merasa sendiri padahal sebenarnya tidak sendiri, kita sering bercakap meski dalam diam, engkau pasti merasakan kehadiranku.

Air matamu sering mengalir dalam diam, aku melihat dan merasakan air mata itu memaksa ingin keluar, tahanlah dulu sampai tidak ada yang melihat air mata itu.

Sebentar lagi hujan akan reda, sayang, tidurlah dalam dekapan malam, berselimutkan doa dari bibir ini.

Ketenanganmu juga ketenanganku, beristirahatlah sayang, pejamkan matamu, aku selalu ada di dekatmu.

Ketegaranmu membuatku semakin yakin, engkau pilihanku, aku tau, banyak mata menelisik dan ribuan keingintahuan, diamlah jika itu membuatmu tenang.

Perisai kita selalu menjagamu dimanapun engkau berada, maafkan bila engkau merasa sendiri, hilangkan perasaan itu karena aku selalu berada di hatimu.

Hujan telah berhenti, tidurlah, pejamkan matamu, engkau akan merasakan keberadaanku.

Aku sedang tersenyum menatapmu.

Itulah puisi tentang kesendirian, hujan, dan Desember. Mari kita nikmati setiap momen dalam hidup ini, baik di dalam kesendirian maupun saat hujan turun di bulan Desember. Jadikan kesendirian sebagai waktu yang berharga untuk merenung dan menguatkan diri, hujan sebagai penyembuh luka, dan Desember sebagai bulan yang membawa harapan baru. Selamat menikmati Desember!

Rumah Fiksi 1919
Latest posts by Rumah Fiksi 1919 (see all)

Tentang Penulis: Rumah Fiksi 1919

Gambar Gravatar
Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena akan membuatku binasa secara perlahan

Tinggalkan Balasan