Perlunya Berhati-hati Dalam Berbicara

oleh -69 views

Mencari Ide Menulis

Menjelang tengah malam di Kota tempatku tinggal hujan turun dengan deras. Hujan datangnya rutin setiap malam. Seperti malam ini, aku tidak bisa tidur, mencoba menulis biar kantuk datang.

Aku mulai mencari ide menulis dengan membaca-baca cerita di medsos, dan aku ingat tentang omongan yang aku anggap sepintas lalu, tapi terjadi, entah itu secara kebetulan atau gimana, sehingga aku menjadikan Perlunya Berhati-hati Dalam Berbicara ini menjadi judul di catatan adsn1919 kali ini.

www.domainesia.com

Kedatangan Guru Baru

Begini ceritanya, di sekolah kami kedatangan guru baru, yaitu guru PAI atau pendidikan Agama Islam, seorang laki-laki dan masih muda, awalnya dia mengajar di SMK, tapi mau mencari pengalaman di SD.

Setelah berbagai tes yang aku lakukan beserta beberapa guru senior, kami sepakat menerima pak Fulan (sebut saja begitu) untuk bergabung di sekolah kami, karena guru PAI menjelang pensiun jadi kami membutuhkan guru baru.

Pak Fulan bertubuh tinggi dan kurus dengan rambut sedikit ikal, orangnya sangat pendiam dan sering menyendiri di mushola yang ada di sekolah kami. Awalnya bergabung pak Fulan berbicara seperlunya dan jarang bergabung bersama kami di kantor guru.

Guru Baru Tak Pernah Makan Minum di Sekolah

Aku pikir mungkin masih baru dan malu, selama di sekolah aku tidak pernah melihat pak Fulan makan dan minum, ternyata para guru juga sama tidak pernah melihat pak Fulan makan dan minum di sekolah.

Minuman di atas meja selalu utuh, ketika ada guru yang memberi permen, permen tersebut masih utuh di atas meja.

Sampai aku bilang ke para guru, “Coba nanti kita lihat, kalau pak Fulan makan bareng kita akan turun hujan petir”, aku bicara dengan datar dan tidak menganggap itu sumpah.

Berbulan-bulan bergabung di sekolah, kami tidak pernah melihat pak Fulan makan dan minum, entah pantangan, malu atau sedang puasa kami tidak tau. Kalau toh iya puasa masa setiap hari, itu menjadi pikiran kami.

Aku Tidak Berhati-hati Berbicara di Hari Ulangtahunku

Sampai suatu ketika, bulan Desember adalah ulangtahunku, aku mengajak para guru makan di rumah makan sebagai syukuran atas usia dan rezeki yang diberikan Allah padaku.

Awalnya aku pesimis pak Fulan mau datang untuk makan-makan, tapi pikiranku meleset, pak Fulan datang bersama para guru dan lebih kagetnya lagi, dia ikut memesan makanan dan makan. Aku dan guru-guru yang lain kaget bercampur senang, untuk pertama kalinya kami melihat pak Fulan makan.

Rumah Fiksi 1919

Tentang Penulis: Rumah Fiksi 1919

Gambar Gravatar
Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena akan membuatku binasa secara perlahan