Sempurna

oleh -0 views
https://images.pexels.com

Apakah yang diharapkan
seseorang untuk menjadi sempurna.  Secara
fisik berhidung mancung, bertubuh atletis, atau berlenggok lenggok laksana
gitar bagi wanita?  Shandy mulai mencoret coret sketsa tubuh.
Apakah harus dilengkapi dengan
otak brilian, senang bergaul, populer, juara tari atau olahraga? Shandy mengerutkan kening sejenak sebelum
mulai menambah aksesoris pada sketsa tubuh itu.
Apakah harus baik hati, suka
menolong, rajin beribadah, pendengar yang baik? 
Shandy merambah kuas cat masuk ke
dalam warna warna pada sketsanya.
Apalagi yang kurang ya? Oh ya,
penyayang binatang, sangat peduli lingkungan, gemar naik gunung.  Kembali
Shandy tekun menambah dan mengurangi sketsanya yang makin lengkap.
Tapi belum sempurna.  Shandy menghentikan semua kegiatan melukisnya.  Ada sesuatu lagi yang tidak terpikirkan
sekarang untuk membuat sketsanya menjadi sempurna.  Buntu. 
Dia ingin lukisannya benar
benar
sempurna.
Dia akan memamerkan semua
hasil lukisannya di acara “Galeri Seniman
Muda”
minggu depan.  Bersama puluhan
pelukis muda lain.  Belasan lukisan
pilihan telah dipersiapkan.  Tapi Shandy
belum puas.  Dia harus punya satu masterpiece.  Harus istimewa tanpa cela.  Lukisan yang sempurna.  Mata
mata penonton tidak boleh berkedip menikmati semua
kesempurnaannya.  Shandy sangat bertekad.  Dia tidak boleh kalah sama yang lain.  Dia harus nomor satu.  Teristimewa.
——–
Sampai saat besok lukisan
harus dipajang.  Shandy masih berjibaku
dengan lukisan masterpiecenya.  Hatinya masih belum benar
benar terima. 
Meski 10 dari 10 kurator kenalannya mengatakan bahwa lukisannya sangat
sempurna.  Sesosok tubuh atletis, molek,
cantik luar biasa.  Tatapan matanya teduh
menggambarkan keimanan.  Senyumnya lebih
dalam dibanding Monalisa
sekalipun.  Berdiri di pinggang gunung
yang hijau menawan.  Dikelilingi oleh
berbagai macam binatang yang memujanya.  Shandy
tetap menggeleng
gelengkan
kepalanya.
Shandy lalu teringat pesan
kakeknya yang pelukis terkenal di negeri ini. 
Tersenyum sejenak dengan mata meredup, membangun kekuatan hati dan
jiwanya.  Inilah satu
satunya cara membuat lukisan ini sempurna.
——–
Pameran lukisan dibuka.  Shandy sama sekali tidak terlihat.  Galeri megah itu dipenuhi pengunjung.  Semua lukisan yang dipamerkan adalah hasil
karya para pelukis muda berbakat.  Semuanya
karya karya hebat. 
Semakin siang dan sore
pengunjung semakin berjubel.  Ada satu
lukisan yang menjadi pusat perhatian.  Sampai
sampai orangorang harus antri untuk melihatnya. 
Lukisan Shandy dengan judul Sempurna.
Selama pameran berlangsung,
lukisan Sempurna menyita semua
perhatian.  Lukisan itu benar
benar nampak hidup.  Para kurator berpengalaman yang menilai
memberikan label 10 pada penilaiannya. 
Harga lukisan itu melonjak tajam dalam lelang.  Termahal dalam sejarah pameran galeri mewah
tersebut.  Seorang konglomerat penggila
lukisan tidak segan
segan merogoh
kantongnya dalam
dalam agar
bisa memiliki lukisan tersebut.  Dan dia
berhasil memilikinya.  Besok saat pameran
usai, dia berhak memboyong lukisan itu ke rumahnya.
Shandy bahkan belum memunculkan
diri selama pameran yang menggegap
gempitakan
namanya itu.
——–
Seorang lelaki tua memasuki
ruang pamer galeri pada sore terakhir pameran. 
Dia langsung menuju lukisan cucunya yang menghebohkan dunia lukisan
beberapa hari terakhir di senatero negeri. 
Ditemani oleh direktur galeri yang adalah teman akrabnya.
Lelaki itu menatap lukisan itu
dalam
dalam.  Menelitinya dengan seksama.  Adakah kekurangan yang bisa disampaikan
kepada cucunya.  Sama sekali tidak ada!  Lukisan itu benar
benar sempurna!
Lelaki itu menatap lekatlekat pada mata sosok dalam lukisan.  Mata yang sangat hidup.  Senyum yang juga sangat hidup.  Sosok dalam lukisan ini seperti bernyawa.    
Wajah lelaki itu memucat!  Dia meraih telepon genggamnya.  Mengharap ada yang menerima panggilan
teleponnya.  Wajahnya semakin pias.  Meletakkan kembali telepon dalam
sakunya.  Tepat ketika seorang polisi
berlari
lari hampir
menabraknya. 
Polisi itu berbicara cukup
lantang namun gemetar kepada direktur galeri yang sedari tadi menemani.
“Shandy ditemukan telah
beberapa hari meninggal dunia di kamar kosnya. 
Bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya.  Yang aneh, dia seperti sengaja meneteskan
darahnya pada lukisan yang sama persis dengan yang dipamerkan di sini.  Lukisan berjudul Sempurna……”
Lelaki tua kakek Shandy
menundukkan kepalanya dengan sedih. 
Cucunya mengikuti nasihatnya dulu. 
Shandy benar
benar
menyerahkan hidupnya agar lukisannya bernyawa. 
Nyawa itulah yang membuat lukisannya sempurna.
Jakarta, 21 Juni 2017

www.domainesia.com

Gambar Gravatar
Latest posts by mim (see all)