Misteri Kanvas Lukisan Kosong

oleh -0 views
https://images.pexels.com

Andam
melihat lukisan aneh itu pertama kali masuk rumah Dini.  Matanya seperti dituntun melihat lukisan kosong
yang dipasang di pojok ruang Keluarga Sosrodiningrat.  Tempat memajang lukisan itu benar
benar di pojok ruang tamu.  Sehingga tidak siapapun yang akan
menyadarinya jika tidak secara sengaja melihat ratusan lukisan satu persatu
dari ruang atas sampai bawah.  Atau
seperti Andam, yang matanya seperti tertarik magnet memperhatikan lukisan itu
secara lebih dalam.
Dini
tertegun melihat Andam seperti orang terhipnotis.  Batinnya tercekat.  Ah jangan yang ini,  jangan pemuda ini.  Dia sudah terlanjur mencintainya.  Duh, mungkin lebih baik jika dia terus saja
berpura
pura tanpa terjebak harus
mencintainya.

www.domainesia.com

Sorot
pemuda yang hampir linglung ini membuat Dini mulai menyanyikan sajak
sajak kehilangan. 
Ayahnya keterlaluan.  Seharusnya
pemuda yang terpilih menjadi tumbal benar
benar yang dibenci oleh keluarga ini.

Sampai
Andam pulang dari rumahnya, Dini hanya banyak berdiam diri.  Gadis ini tak sanggup lagi menguasai
hati.  Dia harus bicara dengan ayahnya.
——
Andam
mengenal Dini di kampus sebagai gadis yang sangat misterius.  Cantik, kaya, pintar, tapi selalu menghindari
laki
laki.  Bahkan meski hanya untuk bertegur sapa
sekalipun.  Ini aneh.  Gadis sekaliber Dini seharusnya mengejar
tahta sebagai gadis terpopuler.  Dia
punya segalanya untuk menggapainya tapi tidak dilakukannya.

Tapi
ini justru seperti sebuah tantangan bagi Andam. 
Pemuda yang gemar berjuang keras untuk mendapatkan gadis idaman.  Setelah itu bosan.  Mencari lagi yang bisa menantangnya.  Dapat. 
Bosan lagi.  Cari lagi.  Begitu berkali
kali.

Hanya
sekali Andam pernah benar
benar jatuh
hati.  Berjuang sekeras
kerasnya untuk mendapatkan cinta gadis itu.  Anak seorang pembantu rumah tangga dari
sebuah keluarga kaya.  Itu saja yang
Andam tahu.  Gadis itu adik kelasnya
waktu di SMA.  Namanya Shinta.  Begitu ayu. 
Lembut.  Meski bulir
bulir duka di sudut matanya tetap kentara.  Hampir setiap harinya.

Perjuangannya
berhasil.  Gadis itu jatuh cinta
kepadanya.  Andam sama sekali tak pernah
menyia
nyiakannya.  Hingga suatu ketika Andam harus berduka
bertahun
tahun
lamanya.  Gadis itu meninggal dengan
tragis tanpa dia sempat menjumpainya lagi.  Waktu itu dia sudah kuliah di luar
negeri.  Andam hanya sempat mengunjungi
makamnya di desa tempat gadis itu dilahirkan. 

Mendengar
cerita memilukan bagaimana Shinta mengakhiri hidupnya, membuat pedih dan rasa
kehilangan yang terus
terusan.  Membuat Andam tak betah lagi di luar
negeri.  Memutuskan pulang dan
melanjutkan kuliah di negeri sendiri. 
Saat dia menemukan tantangan di diri Dini.
—–
Dini
menatap ayahnya seakan tak percaya. 
Kalimat demi kalimat yang baru saja mengalir dari mulut ayahnya masih juga
membuatnya tak percaya.

“Kamu
tidak usah memikirkan apa yang terjadi Dini. 
Ini sudah takdir.  Takdir keluarga
Sosrodiningrat.  Keluarga bangsawan yang
mengkhianati kebangsawanannya.  Akibatnya
harus rela dikhianati oleh kebangsawanannya.”

Dini
hanya sempat menyela sedikit,

“Tapi
ayah, tidak bisakah kutukan tumbal ini dihilangkan? Sudah terlalu banyak orang
yang tidak bersangkut paut menjadi korban….”

Ayahnya,
Raden Mas Ngabehi Pujo Sosrodiningrat, hanya mendengus pendek.  Bukan sebuah jawaban yang memuaskan bagi
Raden Ayu Putri Andini Sosrodiningrat.
——
“Andam,
kamu diundang makan malam oleh keluargaku di rumah nanti malam.  Apakah kamu bersedia?” Dini berucap lirih
tanpa menatap Andam yang berjalan menjajari langkahnya. 

Andam
menghentikan langkahnya.  Dini ikutan
berhenti.  Andam menatap Dini.  Sebuah kejutan.  Ujar Andam dalam hati.  Mungkin ini ujian terakhir baginya sebelum
benar
benar bisa menaklukkan
Dini yang selama ini belum sepenuhnya bisa dia tangkap dalam hatinya.  Pemuda itu mengangguk mantap.  Melanjutkan langkahnya kembali dengan
tegap.  Penuh kepercayaan diri yang
tinggi.

Dini
menatap langkah pemuda yang dicintainya itu dari belakang.  Ah Andam, lebih baik jika kau tidak usah
menyanggupi untuk datang.  Dini mengeluh
cemas dalam hati.
——
Malam
itu.  Andam benar
benar datang memenuhi janjinya.  Berbaju surjan rapi, berblangkon dan sangat
tampan.  Dini menambahkan sebelum pulang
kuliah tadi bahwa Andam diharapkan datang mengenakan pakaian khas jawa.  Dan itu ditepati oleh si pemuda.

Keluarga
Sosrodiningrat berkumpul lengkap. 
Semuanya mengenakan pakaian khas jawa. 
Termasuk Dini.  Andam sampai harus
mengakui dalam hati.  Belum pernah dia
menjumpai puteri jawa berbalut pakaian khasnya secantik ini. 

Suasana
jamuan makan malam sangat khidmat.  Andam
harus mengikuti semua tata cara perjamuan jawa yang sangat rumit
menurutnya.  Dia sendiri orang jawa,
namun orangtuanya tidak pernah mengajarkan bagaimana bertata cara sebagai orang
jawa pada saat makan bersama.
——
Selesai
perjamuan makan.  Andam berbincang
bincang dengan keluarga Sosrodiningrat di ruang
depan.  Entah disengaja atau tidak, Andam
duduk tepat berhadapan dengan lukisan kosong yang menarik perhatiannya beberapa
hari yang lalu.

Pemuda
ini terperanjat hebat.  Selama perbincangan,
kanvas lukisan kosong yang selalu menarik matanya itu perlahan
lahan seperti terisi oleh sebuah sketsa
lukisan.  Sketsa perempuan!  Belum nampak jelas.  Tapi kejadian itu sudah membuat jantung Andam
seperti dipalu godam.  Serasa dia
mengenal garis
garis tegas
sketsa lukisan aneh itu.  Sosok itu
seperti telah dikenalnya bertahun tahun yang lalu.

Andam
mengucek
ucek kedua
matanya.  Sketsa itu semakin tegas
sekarang.  Sosok yang benar
benar dikenalnya dengan baik.  Shinta! 
Ya Tuhan!  Apa yang terjadi?
——
Andam
memandang sekeliling.  Semua orang sedang
memperhatikannya dalam
dalam.  Hanya Dini yang menundukkan muka.  Dua butir air mata mengalir melewati
pipinya.  Andam ingin mempertanyakan
keheranannya kepada keluarga aneh ini. 
Tak ada satupun suara keluar dari kerongkongannya.  Lehernya seperti tercekik sesuatu yang tak
nampak.  Mukanya memerah.  Andam memerintahkan tubuhnya memberontak.  Tidak bisa. 

Andam
maklum sesuatu yang mistis tengah terjadi padanya.  Dia sama sekali tidak bisa apa
apa.  Tenaganya
makin lama makin habis.  Dia hanya
sanggup menggerakkan leher melihat kesana kemari.  wajahnya semakin pucat seperti sedang dalam
proses kehilangan banyak darah. 
Dilihatnya semua keluarga Sosrodiningrat menatap aneh kepadanya.  Kecuali Dini, gadis itu semakin dalam saja
menundukkan mukanya.  Tubuhnya bahkan
meringkuk dan menggigil di kursi yang didudukinya. 
Aaahhh, mereka sengaja melakukan ini
kepadanya!

Andam
ingin berteriak minta tolong.  Tetap
tidak ada suara.  Hanya desis lirih
kesakitan yang terdengar lemah. 
——
Mendadak
Andam seperti mendapatkan kekuatannya kembali. 
Lehernya seperti dipaksa untuk melihat lukisan itu lagi.

Dilihatnya
Shinta di dalam lukisan sedang tersenyum kepadanya.  Di mata itu mengalir air mata.  Air mata darah!  Tapi mulut itu tersenyum bahagia seperti
sedang menenangkannya. Andam pulih secepat dia melemah tadi.  Dilihatnya keluarga Sosrodiningrat sedang
memperhatikannya dengan terheran
heran.  Hanya Dini yang tidak.  Gadis itu sekarang menggelosor jatuh
dikursinya.  Wajahnya sepucat mayat.  Dari kedua matanya mengalir airmata. Airmata
darah!

Keluarga
Sosrodiningrat hanya terpaku.  Tidak
percaya apa yang terjadi!  Tumbal ini
salah alamat!
Andam
sudah sanggup berdiri meski menggigil. 
Dilihatnya lagi lukisan itu. 
Shinta sekarang tersenyum penuh cinta menatapnya.  Lalu sketsa sosoknya perlahan
lahan menghilang dengan cepat.  Lukisan itu kembali kosong lagi!

Keluarga
Sosrodiningrat panik.  Mereka
mengerubungi tubuh Dini yang lemas tak berdaya. 
Andam terpaku di tempatnya. 
Matanya kembali dipaksa melihat kanvas lukisan kosong itu.  Untuk melihat dengan tegas ada sketsa sosok
Dini tergambar di sana.  Tersenyum pedih
kepadanya.  Dan juga kepada keluarganya.
Batam,
31 Mei 2017

Gambar Gravatar
Latest posts by mim (see all)