, ,

Hanya Tuhan Tempat Mengadu

oleh -89 views
Hanya Tuhan Tempat Mengadu_Foto oleh Vitor Almeida dari Pexels

Senja ini hujan membuat kuyup bumi tempat berpijak, ada keresahan tentang pintu yang ditutup kembali.

Dibalik pintu bisikan-bisikan terdengar, entah benar atau salah sudah tak dihiraukan. Kebencian sudah merasuki akal pikiran, kebenaran disalahkan.

www.domainesia.com

Dibalik pintu praduga disematkan, entah siapa yang memakan buah nangka, getahnya terkena yang lain.
Entah siapa yang membuat piring kotor, yang mencuci orang lain.

Sudah biasa dan menjadi terbiasa dengan pintu yang dibuka dan ditutup kembali, ditutup, dibuka kembali.

Ada rasa lelah dengan semua ini, menatap cermin yang terlihat buram, memperlihatkan sebuah wajah yang kini senyumannya telah hilang.

Hanya Tuhan tempat mengadu, keluh kesah mengalir tanpa sekat, tidak perlu takut akan anak panah yang sedang mengarah, menunggu lidah ini terpeleset.

Diam pilihan yang tepat, membiarkan praduga mengarah, saatnya tak perlu lagi ada pembelaan diri, bukankah para pembenci tak butuh pembelaan diri?

Cermin itu masih ada meski sedikit retak, seraut wajah selalu mengawasi meski tak terlihat. Ketika jejak menjejakkan dibuat tak berjejak lagi, sungguh tidak adil.

Bukankah karena permintaan, ketika harus menjejakkan kaki? Mencari berita lewat merpati yang sedang terbang rendah, menanyakan keberadaan, menanyakan sebuah warna yang terlihat jelas.

Namun ketika warna itu sudah jelas, mengapa harus dibuat pudar lagi?

Hanya Tuhan tempat mengadu, bercerita pada tarian pena sudah bersekat mana yang runcing dan yang tumpul, sebuah pinta harus dipenuhi.

Ujung pena kembali ditumpulkan, dibalik pintu bisikan terdengar lagi, menunggu tarian pena terjatuh dan membuat tinta merah.

Nyanyian senja terdengar lirih, ingin sekali melukiskan keindahan senja, Tetapi malam datang lebih cepat.

Kaki ini ingin terhenti, bisikan hati untuk terus berjalan, cahaya itu tetap ada dan bersinar dalam pangkuan.

Hanya Tuhan yang tau bisikan hati, ketika kepasrahan datang.

ADSN1919

Rumah Fiksi 1919

Tentang Penulis: Rumah Fiksi 1919

Gambar Gravatar
Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena akan membuatku binasa secara perlahan

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.